Senin, 1 September 2014   |   Tsulasa', 6 Dzulqaidah 1435 H
Wahai ananda lembutkan lidah Berunding jangan patah mematah Cari yang baik membawa faedah Mufakat dapat sengketa pun sudah

Sastra Melayu

Fonologi Bahasa Melayu (Malaysia)

Oleh: Misran

Sekilas Sejarah dan Dialek

Bahasa Melayu di Malaysia (BM) diakui sebagai bahasa nasional berdasarkan Peraturan 152 Pasal 1. Undang-undang ini baru disahkan pada tahun 1968 M, atau sembilan tahun pasca kemerdekaan negara itu. Meskipun di dalam Undang-undang itu digunakan istilah Bahasa Melayu, BM berulangkali berganti nama resmi. Dari pertama bernama Bahasa Melayu, diganti menjadi Bahasa Malaysia, kemudian berganti lagi menjadi Bahasa Melayu, dan terakhir pada tahun 2007, nama resmi bahasa ini kembali menjadi Bahasa Malaysia.

Penggunaan BM di Malaysia tidak begitu disambut secara antusias oleh warga ketika bahasa itu disahkan sebagai bahasa nasional. Justeru bahasa Inggris yang sering digunakan, terutama di kalangan etnis Cina dan India walaupun mereka termasuk warga minoritas. Hal ini membuat pemerintah berusaha menggalakkan penggunaan BM melalui beberapa peraturan, misalnya pada tahun 1961 dikeluarkan Akta Pelajaran dan pada tahun 1963 dikeluarkan Akta Bahasa Kebangsaan. Namun demikian, peraturan-peraturan ini dinilai secara pesimis oleh sebagian kalangan seperti pernyataan seorang Ketua Hakim Negara pada tahun 1979, bahwa BM tidak mungkin digunakan di mahkamah (pengadilan) karena berbagai keterbatasan yang dimiliki BM.

Perubahan baru terjadi pada dekade 80-an, yakni ketika BM berhasil menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah, mulai taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Perubahan ini seiring dengan peran Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP – diresmikan pada tahun 1956) yang semakin gencar memasyarakatkan BM. Istilah-istilah teknis yang selama dua dekade sebelumnya sulit ditemukan masuk menerobos bersama-sama dengan gaya bahasa yang estetis, yang banyak digunakan dalam ragam bahasa sastra. 

Pasca perubahan ini, BM akhirnya berhasil menduduki lima fungsi yang harus dimiliki oleh sebuah bahasa nasional: fungsi sebagai bahasa nasional itu sendiri, sebagai bahasa resmi, sebagai bahasa perpaduan atau bahasa antaretnis, sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan terakhir sebagai bahasa pendidikan.

BM yang memiliki wilayah sebar tutur di sebuah negara yang luas seperti Malaysia, tentunya, memiliki perbedaan-perbedaan cara tutur. Masing-masing Negeri (daerah) hampir memiliki satu dialek tersendiri, yang berbeda dengan daerah lainnya. Dialek-dialek BM yang masyhur di Malaysia antara lain, dialek Johor di Negeri Johor yang terletak paling selatan, dialek Perak di Perak Darul Ridzuan, dialek Melaka di Negeri Melaka sebelah utara Johor, dialek Kedah yang terdapat di Negeri Kedah Darul Aman, dan terakhir dialek Sarawak yang terletak di Malaysia Timur atau di Pulau Kalimantan yang disebut juga dengan Pulau Borneo.

Kata /kapal/ yang terdapat di dalam BM Piawai (standar) dapat dijadikan sebagai contoh yang jelas. Meski tetap direalisasikan menjadi /kapal/ di Johor, Melaka dan Sarawak, di Perak ia malah direalisasikan (baca; diucapkan) menjadi /kapɛ/ dan di Kedah direalisasikan menjadi /kapaj/. Contoh lain yang lebih mencolok perbedaannya adalah kata /pagar/. Di Johor orang menyebutnya /paga/, di Perak orang menyebut /pagɔ/, akan tetapi di Melaka malah disebut /pagaw/, di Kedah disebut /paga?/ (dengan glotal atau hamzah di akhir) dan di Sarawak menjadi /pagaR/. /r/ yang terdapat di akhir kata /pagar/ ternyata direalisasikan dengan cara yang berbeda-beda oleh dialek-dialek ini dan justeru karena perbedaan-perbedaan kecil nan khas inilah mereka menjadi dialek.

Pendahuluan

Di antara tataran kebahasaan yang paling mendasar adalah tataran fonem. Tataran ini berada pada tataran bunyi terkecil dari sebuah bahasa, yang juga memiliki sistemnya sendiri. Di dalam ilmu linguistik, cabang ilmu yang mempelajari sistem fonem dalam sebuah bahasa disebut Fonologi.  

Fonologi adalah ilmu bunyi, yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat artikulasi manusia. Bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat artikulasi atau alat ucap itu disebut fon (phone). Sementara itu, fonem adalah satuan bunyi terkecil dari sebuah bahasa yang mampu menunjukkan kontras makna. Apabila kontras makna tidak terjadi, maka sebuah bunyi bahasa tidak dapat disebut sebagai sebuah fonem yang berbeda. Kontras makna ini adalah syarat bagi keabsahan sebuah fon atau bunyi bahasa untuk disebut sebagai fonem.

Satu unit ujaran yang bermakna (bisa morfem dan bisa pula kata) terdiri dari beberapa satuan bunyi. Misalnya kata pagi. Kata ini terdiri daripada empat unit bunyi atau fonem yaitu /p/, /a/, /g/ dan /i/. Terjadinya sebuah fonem bisa ditunjukkan dengan melakukan perbandingan fitur. Anggapan bahwa bunyi p dan b masing-masing merupakan fonem yang berbeda dapat diterima setelah membandingkan kedua bunyi tersebut pada kata pagi dan bagi. Kata pagi menunjukkan waktu, dan kata bagi menunjukkan kata kerja. Kedua-duanya secara makna berbeda. Dari perbedaan itu disimpulkan bahwa anggapan p dan b berbeda adalah benar.

Fonologi BM diterangkan dengan terlebih dahulu membicarakan fonem. Fonem vokal, konsonan, diftong dan beberapa alofon merupakan hal-hal yang dibicarakan. Penjelasan kemudian diakhiri dengan menerangkan pola suku kata di dalam BM.

Fonologi BM

Sistem bunyi bahasa (fonetik) mencakup dua macam fonem: fonem segmental yang membentuk kata dan kalimat, dan fonem suprasegmental yang terdapat di dalam kata dan kalimat. Fonem segmental yang menjadi dasar pembentukan kata dan kalimat terbagi dua: fonem vokal dan fonem konsonan. Fonem suprasegmental berupa stres (keras/lembutnya arus ujaran), nada (tinggi/ rendahnya arus ujaran) dan durasi (panjang/ pendeknya waktu yang dibutuhkan).

BM, seperti bahasa lain juga, memiliki fonem vokal dan fonem konsonan. Fonem vokal terdiri dari enam fonem vokal dan fonem konsonan terdiri dari 19 konsonan asli dan sembilan konsonan pinjaman. Di samping itu, terdapat pula diftong dan alofon.

Pembagian fonem kepada fonem vokal dan fonem konsonan didasarkan kepada terhambat atau tidaknya arus udara ketika sebuah bunyi dihasilkan di dalam rongga. Jika arus udara bebas berlalu begitu saja, fonem yang dihasilkan disebut fonem vokal atau vokal saja. Akan tetapi jika udara terhambat selama proses artikulasi tersebut, fonem yang dihasilkan disebut sebagai fonem konsonan atau konsonan saja.

Fonem Vokal

Vokal di dalam BM terdiri dari enam buah. Keenam vokal itu antara lain a, i, u, o, dan e dan è. Vokal /a/ atau disebut juga Vokal Bawah dihasilkan dengan merendahkan bagian bawah lidah. Vokal /u/ atau disebut juga Vokal Belakang dihasilkan dengan lidah yang ditarik ke belakang rongga mulut. Sementara itu /i/ dan  /e/ yang juga disebut Vokal Depan dihasilkan dengan menggerakkan lidah ke arah langit-langit. Vokal Tengah yaitu /è/ dihasilkan dengan lidah dalam posisi tidak di depan dan tidak di belakang.

Tabel Fonem Vokal di dalam Bahasa Melayu

Posisi Lidah Depan Tengah Belakang
Tinggi i [i]
u [u]
Tengah e [e, ɛ] e [ə] o [o, ɔ]
Rendah
a [a] a [ɑ]

(Tabel: Fonem Vokal BM (Diubahsuaikan dari wikipedia.com)

Kesemua fonem vokal ini terdapat pada semua posisi, baik itu di depan, tengah atau pun belakang, kecuali vokal [e] yang tidak terdapat di akhir kata. Vokal [a] yang terdapat di awal seperti pada kata anak (contoh miring), di tengah seperti pada kata tanah, dan di akhir seperti pada kata lada. Vokal [è] juga terdapat pada ketiga posisi itu; posisi awal pada kata ela, posisi tengah pada kata semak dan posisi akhir pada kata sate. Vokal [i] juga bisa menempati posisi awal, tengah dan akhir; awal pada kata iring, tengah pada kata kita, dan akhir pada kata seri. Agak berbeda dengan ketiga fonem di atas, fonem [e] hanya menduduki posisi awal dan tengah serta tidak menempati posisi akhir. Pada posisi awal seperti pada kata emak dan pada posisi tengah pada kata betul. Dua fonem yang terakhir yaitu [o] dan [u]. [o] pada posisi awal seperti pada kata obor, pada posisi tengah seperti pada kata botak dan pada posisi akhir seperti pada kata kuno. Terakhir, [u] menduduki posisi awal seperti pada kata ular, posisi tengah seperti pada kata susu dan pada posisi akhir seperti pada kata saku.

 Lambang fonetik  Awal  Tengah  Akhir  Keterangan
 [a]  anak  tanah  lada  
 [è]  ela  semak  sate  
 [i]  iring  kita  seri  
 [e]  emak  betul    tidak terdapat di akhir kata
 [o]  obor  botak  moto  
 [u]  ular  sultan  saku  
Tabel: Fonem Vokal dan Distribusinya (Diubahsuaikan dari wikipedia.com)

Fonem Konsonan

Konsonan adalah bunyi yang dihasilkan oleh arus udara yang terhambat atau terhalang oleh salah satu alat ucap seperti bibir, gusi, langit-langit, dan sebagainya, sehingga udara dilepaskan melalui rongga mulut atau rongga hidung. Fonem konsonan BM terdiri dari 19 buah konsonan asli dan sembilan buah konsonan pinjaman. Berikut konsonan-konsonan yang terdapat di dalam bahasa Melayu itu: [p], [b], [t], [d], [k], [g], [c], [j], [m], [n], [ŋ], [ñ], [s], [h] [r], [l], [w], [y] dan [?] merupakan konsonan-konsonan asli, sedangkan konsonan pinjaman adalah [q], [f], [v], [z], [x], [ts], [dz], [sy] dan [kh]. Konsonan asli menjadi objek pembahasan, sedangkan konsonan pinjaman tidak dibahas.

Tabel Fonem Konsonan di dalam Bahasa Melayu


Bilabial

Labio-dental

Dental

Alveolar

Pasca- Alveolar

Langit-langit

Velum

Uvula

Celah suara

Plosif

p [p]

b [b]


 

t
      [t]

d [d]



 




k [k]

g [g]

q
[q]

k [ʔ]

 

Nasal

m [m]


n [n]

ny
[ñ]

ng [ŋ]






Frikatif



f [f]

v [v], [ʋ]

ts [θ]

dz [ð]

s [s]

z [z]

sy
[ʃ, ʂ, sj]


 

kh [x]




h [h]



Afrikat




 

 

 


 

c [tʃ]

j
[dʒ]









Semi-
vokal

w [w]



 

 

 

 

 

 

 

y
[j]

 






Vibran




 

r [r]

 

 

 

 

 









Tap




 

r [ɾ]

 

 

 

 

 






 



Lateral




 

l
 [l]

 

 

 

 

 


 

 






Tabel: Konsonan dalam Bahasa Melayu (Diubahsuaikan dari wikipedia.com)

Sembilan konsonan asli memiliki distribusi yang dapat memenuhi semua posisi, baik awal, tengah maupun akhir kata. Konsonan-konsonan itu adalah [p], [t], [m], [n], [ŋ], [s], [h], [r] dan [l]. Konsonan [p] di awal kata seperti pada kata pagi (contoh miring), di tengah seperti pada kata bapak, di akhir seperti pada kata hisap. Konsonan [t] di awal kata seperti pada kata tidur, di tengah seperti pada kata mati dan di akhir seperti pada kata gigit. Konsonan [m] di awal seperti pada kata minum, di tengah seperti pada kata nama dan di akhir seperti pada kata cium. Konsonan [n] di awal seperti pada kata nama, di tengah seperti pada kata tanam dan di akhir seperti pada kata bulan. Konsonan [ŋ] di awal seperti pada kata nganga, di tengah seperti pada kata tangis dan di akhir seperti pada kata hidung. Konsonan [s] di awal seperti pada kata susu, di tengah seperti pada kata masuk, dan di akhir seperti pada kata manis. Konsonan [h] di awal seperti pada kata hidung, di tengah seperti pada kata mahal dan di akhir seperti pada kata marah. Konsonan [r] di awal seperti pada kata rumah, di tengah seperti pada kata kiri dan di akhir seperti pada kata dengar. Konsonan [l] pada posisi awal seperti pada kata leher, pada posisi tengah seperti pada kata pilih dan pada posisi akhir seperti pada kata mahal.

Konsonan Awal Arti Tengah Arti Akhir Arti
p /pagi/ ‘pagi‘ /hisap/ ‘hisap‘ /kepala/ ‘kepala‘
t /tido/ ‘tidur‘ /mati/ ‘mati‘ /gigit/ ‘gigit‘
k /kaki/ ‘kaki‘ /kakap/ ‘besar‘ /kaka?/ ‘kakak‘
m /minum/ ‘minum‘ /nama/ ‘nama‘ /cium/ ‘cium‘
n /nama/ ‘nama‘ /tanam/ ‘tanam‘ /bulan/ ‘bulan‘
ŋ /ŋaŋa/ ‘terbuka‘ /taŋis/ ‘tangis‘ /hiduŋ/ ‘hidung‘
s /susu/ ‘payudara‘ /maso?/ ‘masuk‘ /manis/ ‘manis‘
h /hiduŋ/ ‘hidung‘ /mahal/ ‘mahal‘ /lidah/ ‘lidah‘
r /rambut/ ‘rambut‘ /marah/ ‘marah‘ /tidur/ ‘tidur‘
l /leher/ ‘leher‘ /tali/ ‘tali‘ /katil/ ‘katil‘
Di akhir kata atau sebelum konsonan, /k/ direalisasikan menjadi glottal atau hamzah yang lembut /?/.

Tabel: konsonan yang dapat memenuhi semua posisi

Adapun konsonan [b], [d], [g], [c] dan [j] hanya hadir pada akhir kata pinjaman, seperti kata bab, had ‘batas‘, beg ‘tas‘, koc ‘gerbong kereta api‘ dan kolej ‘institut atau perguruan tinggi‘. Sedangkan konsonan [ñ], [w] dan [y], tidak pernah terdapat pada akhir kata.

Konsonan [b] pada posisi awal kata seperti pada kata bapak dan pada posisi tengah seperti pada tumbuh. Konsonan [d] pada posisi awal kata seperti pada daki dan pada posisi tengah seperti pada dada. Konsonan [g] pada posisi awal seperti pada kata gigit dan pada posisi tengah seperti pada gigi. Konsonan [c] pada posisi awal kata seperti pada cium dan pada posisi tengah seperti pada cacing. Adapun konsonan [j] yang menempati posisi awal seperti pada jarum dan jahit, dan pada posisi tengah seperti pada tajam.

Ada dua konsonan lain yang dianggap sebagai semi vokal, kadang-kadang juga disebut sebagai semi konsonan hanya saja tidak populer. Konsonan itu adalah [w] dan [y]. Kedua konsonan ini sama-sama tidak pernah menempati posisi akhir.

Konsonan Awal Arti Tengah Arti Akhir Arti
b /bapa?/ ‘bapak‘ /babak/ ‘babak ‘

d /daki/ ‘daki‘ /dada/ ‘dada‘

g /gigit/ ‘gigit‘ /gigi/ ‘gigi‘

c /cium/ ‘cium‘ /cacing/ ‘cacing‘

j /jarum/ ‘jarum‘ /tajam/ ‘tajam‘

ñ /ñamu?/ ‘nyamuk‘ /baña?/ ‘banyak‘

w /warna/ ‘warna‘ /awak/ ‘kamu‘

y /yas/ ‘hias‘ /ya?yuŋ/ ‘sejenis kumbang‘

Tabel: konsonan yang hanya dapat memenuhi posisi awal dan tengah

Diftong

Jika satu vokal berada dalam satu gugusan dengan vokal yang lain sehingga menghasilkan bunyi luncuran, bunyi ini disebut sebagai diftong. Di dalam BM, hanya terdapat tiga diftong. Ketiga diftong ini dapat menempati semua posisi: awal kata, tengah kata maupun akhir kata. Diftong /ai/ misalnya dapat menempati posisi awal, tengah dan akhir, begitu pula dengan kedua diftong yang lain yaitu diftong /au/ dan diftong /ua/, keduanya juga menempati ketiga posisi yang ada: awal, tengah dan akhir kata. Walhasil, ada tiga diftong yaitu /ai/, /au/ dan /ua/, yang kesemuanya dapat menempati semua posisi.

Untuk mempermudah pembandingan, di bawah ini disajikan masing-masing diftong dalam semua posisi. Posisi awal, tengah dan posisi akhir mendapat satu kata untuk contoh:

 Diftong Awal Tengah Akhir
 /ai/ /aising/ ‘campuran gula    pada kue‘ /pais/ ‘pepes ikan‘ /pandai/ ‘pandai‘
 /au/ /aura/ ‘suasana halus yang    dirasakan‘ /jaur/ ‘berjalan tanpa arah‘ /lampau/ ‘lampau‘
 /ua/ /uan/ ‘uban‘ /perempuan/ ‘perempuan‘ /semua/ ‘semua‘
 

Alofon

Perbedaan bunyi ada yang menimbulkan kontras makna dan adapula yang tidak. Apabila kontras makna terjadi, masing-masing dari bunyi yang berbeda itu dapat disebut sebagai fonem. Jika tidak terjadi kontras makna, kedua bunyi itu dianggap sebagai bunyi yang sama, hanya saja salah satu di antara keduanya merupakan bunyi dasar yang dapat disebut dengan fonem, sementara yang lain disebut sebagai alofon.

Agar perbedaan antara alofon dan fonem menjadi jelas, contoh berikut yang terdapat di dalam BM dikemukakan. Bunyi /p/ kadang-kadang diucapkan sebagai frikatif yang tidak penuh sebagaimana dalam kata /luap/. Padahal bunyi /p/ yang biasa terdapat di dalam kata lain merupakan frikatif yang penuh. Maka /p/ dalam kata luap yang tidak diletupkan secara penuh ini disebut sebagai alofon dari /p/ yang diletupkan secara penuh.

Sebagaimana halnya fonem /o/ pada kata tokoh bukan diucapkan sebagai /o/ biasa, tetapi diucapkan sebagai /ɔ/. Kedua bunyi ini berbeda, namun perbedaan itu tidaklah memengaruhi arti, sebagaimana berbedanya arti pagi dan bagi karena bunyi /p/ dan /b/ berbeda.

Suku Kata

Suku kata adalah satu ujaran terkecil dari sebuah kata yang didasarkan pada kehadiran vokal. Setidak-tidaknya satu suku kata terdiri dari satu buah vokal atau satu vokal dan satu konsonan. Mengacu kepada bunyi akhir, suku kata dibagi menjadi dua: suku kata terbuka dan suku kata tertutup. Suku kata terbuka adalah suku kata yang diakhiri oleh vokal, sedangkan suku kata tertutup adalah suku kata yang diakhiri oleh konsonan.

BM mengenal sebelas pola suku kata, dengan empat pola dasar: V, VK, KV dan KVK (V = vokal, K = konsonan). Berikut adalah keempat pola dasar itu beserta tujuh pola yang lain. Semuanya disertai contoh:

 

Pola Suku Kata

Contoh huruf miring)

 

Awal

Tengah

Akhir

1

V

i -tu

tu- a -la

ra- i

 

 

e -mak

ju- i -ta

raj- i (talak)

2

VK

em -pat

ki- am -bang

ka- in

 

 

um -pa-ma

bi-du- an -da

bu- ah

3

KV

sa -lah

se- ko -lah

bang- ku

 

 

be -sar

teng- ge -lam

cin- ta

4

KVK

ming -gu

ce- mer -lang

pa- dam

 

 

lam -pu

se- rang -ga

se-li- mut

Pola (1) dan (3) merupakan suku kata terbuka, sedangkan (2) dan (4) adalah pola suku kata tertutup.

(Diubahsuaikan dari http://www.karyanet.com.my/bahasa/bahasa_melayu/mek5.php)

Tapi kemudian, pola penyukuan di atas dikembangkan lagi menjadi beberapa pola dengan menambah gugus konsonan sebelum atau setelah vokal, khususnya untuk kata-kata yang dipinjam dari bahasa asing. Hasilnya, pola itu jadi bertambah tujuh pola, dari empat pola yang sudah ada. Kesemuanya menjadi berjumlah sebelas pola. Berikut ini adalah tabelnya:

Pola Suku Kata

Contoh (huruf miring )

 

di awal

di akhir

5

KKV

tra -fik

indus- tri

6

KKVK

prak -tis

elek- trik

7

VKK

eks -port

 

8

KVKK

bank -rap

kon- sert

9

KKVKK

 

kom- pleks

10

KKKV

stra -tosfera

skru

11

KKKVK

struk -tur

skrip

(Diubahsuaikan dari http://www.karyanet.com.my/bahasa/bahasa_melayu/mek5.php)

Dari pola-pola penyukuan yang telah disebutkan, BM menurunkan kata. Sebuah kata di dalam BM paling sedikit memiliki satu suku kata dan paling banyak empat suku kata. Ada juga yang lebih dari empat suku kata, akan tetapi jumlahnya tidak banyak dan lebih sering merupakan kata pinjaman, seperti contoh berikut:

1. Satu suku kata

Suku kata Contoh
KV yu
VK am
KKVK draf, gred. brek

2. Dua suku kata

Suku Kata Contoh
V + KV ibu, ela, era
V + VK air, aib
V + KVK adat, emas
VK + KV anda, unta, angsa
VK +  KVK antah, untuk, ingkar,
KV + KVK bukan, dekat

3. Tiga suku kata

Suku Kata Contoh
KV+V+KV biasa, cuaca, suara
KV + V +KVK kaedah
V + KV + V abai, usia
KV+KV+VK maruah, peluang
KV+KVK+KVK kelompok, kumandang

4. Empat suku kata

Suku Kata Contoh
KV+KV+KV+KV panorama
KV+KV+KV+KVK masyarakat
KVK+KV+V+KV sentiasa

5. Lebih dari empat suku kata

V + KV + KVK +KV+KV universiti
(Diubahsuaikan dari http://www.tutor.com.my/stpm/fonologi/Fonologi.htm)

Penutup

Fonem dalam BM terdiri dari fonem vokal dan fonem konsonan. Ada enam fonem vokal dan 19 konsonan asli. Di samping memiliki fonem, BM juga memiliki diftong dan alofon. Hampir semua fonem vokal dan konsonan bisa menduduki semua posisi. Hanya beberapa fonem saja seperti b, c, j yang tidak pernah menduduki posisi akhir, kecuali fonem pinjaman dari bahasa asing.

Pada tingkat suku kata, BM mengenal urutan konsonan maksimal dua konsonan. Konsonan yang berurut tiga bukan merupakan urutan asli. Sebuah kata dalam BM paling tidak terdiri dari satu suku kata. Kebanyakan bersuku dua dan paling banyak empat suku kata. Jika lebih dari empat suku kata, maka kata itu cenderung merupakan pinjaman dari bahasa asing.

Daftar Pustaka

  • Ahmad, Zaharani. 2006. Kepelbagaian Dialek dalam Bahasa Melayu: Analisis Tatatingkat Kekangan. Bangi: Jurnal e-Bangi Jilid 1 Bilangan 1 (Juli-Desember 2006)
  • Anonim. 2007. Bunyi Bahasa Melayu. http://www.tutor.com.my/stpm/fonologi/Fonologi.htm, diakses pada 12-12-2007.
  • Anonim. 2007. Pembaharuan Pola Suku Kata. http://www.karyanet.com.my/bahasa/bahasa_melayu/mek5.php, diakses pada 12-12-2007.
  • Anonim. 2007. Sistem Fonologi. Diperoleh dari http://ms.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu, diakses pada 12-12-2007.
  • Lubis, A. Hamid Hasan. 1994. Glosarium Bahasa dan Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa.
  • Simanjuntak, Mangantar. 1990. Teori Fitur Distingtif dalam Fonologi Generatif Perkembangan dan Penerapannya. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Lampiran:

Tabel Perbandingan Realisasi Fonem /r/ pada Dialek-dialek Melayu BM

Input Johor Perak Melaka Kedah Sarawak
/pagar/ [paga] [pagɔ] [pagaw] [paga?] [pagaR]
/ular/ [ula] [ulɔ] [ulaw] [ula?] [ulaR]
/bəsar/ [bəsa] [bəsɔ] [bəsaw] [bəsa?] [bəsaR]
/kapal/ [kapal] [kapɛ] [kapal] [kapaj] [kapal]
/hal/ [hal] [hɛ] [hal] [haj]  [hal]

(Ahmad, 2006)

Dibaca : 20.169 kali.

Komentar untuk ''fonologi bahasa melayu''

Berikan komentar anda

Masukkan teks dan angka yang terdapat pada gambar di samping pada kotak di bawahnya. Bedakan penulisan huruf kecil dan huruf besar (kapital)

© 2010 Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Desktop version